Selamat datang di website resmi Pengadilan Tinggi Agama Samarinda

features Artikel

 

Artikel

Pelaksanaan Mediasi....

Print
PELAKSANAAN MEDIASI DENGAN PENDEKATAN NILAI-NILAI ISLAM
DALAM PERKARA PERCERAIAN, HARTA GONO GINI  
DAN GUGATAN HARTA WARIS
 
Oleh : Sutejo
(Hakim PA Balikpapan) 
 

          Setiap orang yang berperkara di Pengadilan Agama, terutama masalah perceraian, gugatan harta bersama maupun gugatan harta waris, maka jika kedua belah pihak hadir di persidangan, para pihak wajib menempuh proses mediasi dengan i’tikad baik sebagaimana maksud pasal 7 ayat (1) Perma No. 1 tahun 2016. Dan jika pihak Penggugat untuk gugatan harta waris/gugatan harta bersama atau gugatan cerai dan atau Pemohon untuk permohonan cerai talak tidak mau beri’tikad baik untuk menempuh proses mediasi, maka gugatan atau permohonannya akan diputus dengan tidak dapat diterima atau di NO (Niet-Onvanklijk), karena mediasi  merupakan syarat mutlak atau sebuah keharusan bagi para pihak yang hadir kedua-duanya.

          Dan seorang mediator di dalam menjalankan tugas mediasinya boleh memberikan nasehat yang panjang lebar, tidak terbatas pada posita maupun petitum gugatan sesuai dengan kehendak Perma No. 1 tahun 2016 pasal 25 ayat (1). Ketidak terbatasan di sini dengan tujuan agar para pihak (gugatan perceraian) dapat mencabut perkaranya dan kembali rukun sebagai suami isteri, sedang dalam perkara (harta bersama maupun gugatan harta waris) agar dapat diselesaikan dengan cara damai secara kekeluargaan. 

          Dari dua pasal tersebut di atas, yaitu pasal 7 ayat (1) dan pasal 25 ayat (1) Perma No. 1 tahun 2016 tersebut, maka penulis mencoba untuk memberikan beberapa sampling penasehatan, dengan harapan para pihak bisa tersentuh hati untuk berpikir ulang di dalam melanjutkan perkaranya di Pengadilan agama, sehingga gugatannya akan berakhir dengan mencabut perkara bagi gugatan perceraian atau permohonan cerai talak untuk rukun kembali sebagai suami isteri yang baik,  dan terhadap perkara gugatan harta bersama atau gugatan harta waris dapat berakhir dengan penyelesaian secara damai (terjadi kesepakatan) antara kedua belah pihak yang berperkara.

          Di sini penulis akan mencoba memberikan sampling penasehatan terhadap pihak-pihak yang berperkara, khususnya terkait dengan 3 (tiga) perkara yang sering muncul di Pengadilan Agama sebagaimana telah disampaikan di atas, dan meskipun ada 3 (tiga) perkara, namun di sini akan dipisahkan ke dalam 2 (dua) sampling saja, yaitu sampling untuk perkara perceraian dan yang kedua sampling untuk perkara gugatan harta waris maupun gugatan pembagian harta bersama. 

A.  DALAM PERKARA PERCERAIAN

            Sebelum melakukan penasehatan pada para pihak yang akan bercerai, seorang mediator terlebih dahulu menjelaskan tentang tugas dan maksud diadakannya mediasi serta waktu yang disediakan untuk pelaksanaan mediasi, sehingga para pihak sebelum dimediasi telah mengetahui esensi dari pada diadakannya mediasi itu sendiri. Dan sebelum masuk pada penasehatan, seorang mediator hendaknya mengetahui penyebab terjadinya perselisihan dan pertengkaran, yang tentunya bisa digali dari keterangan para pihak ataupun dengan membaca dan memahami dalil-dalil gugatan cerai atau permohonan cerai talak yang diajukan oleh Penggugat atau Pemohon. Dan menurut penulis lebih efektif dengan memahami surat gugatan cerai atau surat permohonan cerai talak, karena hal itu lebih dapat menghindari jawab jinawab antara para pihak secara emosional.

Setelah mediator paham tentang penyebab timbulnya perselisihan maupun pertengkaran, selanjutnya mediator bisa melakukan penasehatan melalui pendekatan nilai-nilai islam terhadap kedua belah pihak secara tepat, sesuai sasaran. Dengan harapan agar keduanya menyadari kesalahannya masing-masing dan mau saling memaafkan, sehingga bisa rukun kembali sebagai suami isteri yang baik.

Apabila penyebab terjadinya perselisihan dan pertengkaran antara suami isteri disebabkan oleh aspek ekonomi kurang cukup, atau aspek perselingkuhan maupun perjudian dan minum-minuman keras, maka penasehatannya tetap diawali secara umum tentang pentingnya pernikahan dan mempertahankan rumah tangga, setelah itu baru masuk pada penyebab terjadinya pertengkaran dari para pihak, kira-kira sebagai berikut :

          Bapak ibu, yang mudah-mudahan mendapat petunjuk dari Allah SWT., perlu diketahui bersama, bahwa Allah menciptakan manusia di dunia ini bukan untuk berbuat sesuai kemauan kita, melainkan hanya untuk mengabdi (beribadah) kepada Allah SWT. semata, sebagaimana Firman Allah dalam surat Adz-Dzariyaat ayat 56, yang artinya : “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk mengabdi (beribadah). Dan mengingat manusia diciptakan Allah dibekali dengan nafsu dan akal. Sementara salah satu kecenderungan nafsu manusia selalu tertarik pada lawan jenis, maka Allah mengaturnya dengan melalui ibadah dalam bentuk pernikahan, sehingga jelas bahwa pernikahan itu adalah sebuah ikatan suci dan salah satu bentuk ibadah kepada Allah yang harus diperjuangkan keutuhannya, karena memperjuangkan keutuhan rumah tangga akan bernilai ibadah sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang artinya : “Bila seorang menikah, maka berarti ia telah melengkapi separuh dari agamanya, maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah pada separuh yang tersisa.” (HR. Baihaqi, hadits Hasan). dan sebaliknya perceraian adalah sesuatu hal yang halal, namun sangat dibenci oleh Allah SWT.

Bapak ibu yang mudah-mudahan diberi petunjuk oleh Allah SWT., bahwa untuk mencapai kehidupan suami isteri dalam rumah tangga yang tentram, sakinah, mawaddah, wa rahmah sebagaimana do’a saat kita menikah dahulu yang sangat kita harapkan bersama, maka syaratnya tiada lain adalah kita harus menjadi orang yang beriman yang selalu ingat kepada Allah SWT dalam kondisi dan situasi apapun, kapan saja dan di mana saja kita berada, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Allah dalam al-Qur’an Surat Al Fath ayat 4, yang artinya “ Dialah (Allah) yang telah  menurunkan ketenangan/ketentraman di hati orang-orang yang beriman” dan dalam Suart Ar-Ra’du ayat 28, yang artinya “ ......ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah sajalah, hati akan menjadi tenang”.

Adapun sarana terbaik untuk mengingat Allah SWT., adalah dengan senantiasa menjalankan shalat secara khusu’, dan tidak pernah meninggalkan shalat wajib walau sekalipun, karena orang yang menyepelekan kewajiban shalat, maka sudah barang tentu orang tersebut akan menyepelekan kewajiban-kewajiban yang lain termasuk kewajiban sebagai seorang suami ataupun sebagai seorang isteri, sebab terhadap kewajiban shalat yang merupakan kewajiban pribadi saja lupa, apalagi kewajiban terhadap orang lain.   

Dan perlu diingat pula, bahwa manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan lemah, sebagaimana Qs. An-Nisa’ ayat 28, yang artinya : “....dan diciptakannya manusia itu dalam kondisi lemah”. Maksud ayat ini adalah supaya kita sebagai manusia harus selalu sadar diri di setiap saat, bahwa sesungguhnya kita ini sebenarnya orang yang lemah, tidak punya apa-apa dan tidak punya kekuatan apa-apa, sebab harta, jabatan, kekuatan, kesehatan, tubuh kita yang mulus dan tidak cacat, serta kecantikan maupun ketampanan dan lain-lain yang selama ini kadang-kadang menjadi kebanggaan kita untuk bersikap arogan dan sewenang-wenang terhadap pasangan kita, itu sebenarnya hanyalah  titipan dari Allah, yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali dengan sangat mudah oleh Allah SWT dan ingat bahwa titipan itu semua akan dipertanggung jawabkan nanti di akhirat sebagai alam jaza’ (alam pembalasan).

Jadi kelebihan yang kita miliki saat ini, adalah tidak lebih dari titipan Allah dan kita tidak punya kekuasaan sedikitpun untuk mempertahankannya, bahkan apa yang kita miliki sebagai titipan Allah itu dalam kenyataannya sedikit demi sedikit akan hilang (dicabut oleh Allah) seiring dengan bertambahnya umur kita saat hidup di dunia ini, sebgaimana firman Allah dalam surat Yasiin ayat 68, yang artinya : “ setiap kali usia manausia bertambah, maka akan Aku (Allah) kurangi nikmat ciptaan Ku, apakah kalian tidak berfikir”.

Dan sebenarnya kita sering lupa kalau waktu itu cepat berlalu, umur cepat bertambah tua, kematianpun sudah makin mendekat, dan yang kita rasakan adalah tahu-tahu nikmat kekuatan kita mulai berkurang, bentuk postur tubuh kita mulai tidak menarik dan lain-lain, oleh karena itu yang paling pantas bagi kita agar kita tetap mendapatkan kebaikan dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat nanti, adalah kita harus berbuat bagaimana agar hidup kita bernilai ibadah, tentunya kita harus senantiasa bersyukur terhadap nikmat yang dititipkan Allah kepada kita, dan berusaha terus bersabar terhadap kekurangan pasangan kita, sehingga terbentuk sifat yang selalu bersyukur dan bersabar, sebagaimana sebuah kisah yang disampaikan oleh Abul Hasan Al-Madini, dia berkata : Suatu hari Imran bin Hatthan mendatangi istrinya. Imran ini adalah laki-laki buruk rupa dan berbadan pendek. Sementara istrinya adalah seorang wanita yang cantik. Pada saat itu dia telah berdandan, maka dia semakin cantik dan menawan di mata suaminya, sehingga Imran tidak kuasa kecuali terus menerus memandangi istrinya. Lalu istrinya bertanya, “Ada apa denganmu?” Dia menjawab, “Demi Allah kamu sangat cantik.” Istrinya berkata, “Bergembiralah, aku dan dirimu akan masuk Surga.” Ia bertanya, “Dari mana kamu tahu itu?” Dia menjawab, “Kalau kamu dianugerahi istri cantik sepertiku dan kamu bersyukur, sementara aku diuji dengan suami sepertimu, maka aku bersabar. Orang yang sabar dan orang yang bersyukur itu ada di Surga”.

Bapak ibu yang mudah-mudahan diberi kesadaran oleh Allah SWT., bahwa maksud syukur dalam rumah tangga di sini, bukan hanya mencakup masalah kecantikan wajah dari pasangan kita saja, akan tetapi juga segala kebaikan yang muncul dari pasangan kita berapapun kecilnya kebaikan itu, maka hendaknya kita harus bisa bersyukur. Dan maksud sabar di sini juga tentu bukan saja karena buruknya muka pasangan kita, tetapi juga mencakup keburukan yang muncul dari sifat-sifat pasangan kita, berapapun besarnya keburukan itu, harus kita hadapi dengan penuh kesabaran. Oleh karena itu yang harus kita munculkan dari sifat kesyukuran dan kesabaran kita adalah dengan senantiasa berusaha sekuat mungkin untuk selalu bisa menerima dan mudah memberikan maaf pada kesalahan dan kekurangan pasangan kita, juga selalu mendo’akan dan meminta pasangan kita agar bisa berubah sesuai apa yang kita harapkan.

Dan oleh karena kejadian-kejadian berupa kesalahan maupun salah paham yang datang pada diri kita dan pasangan kita selama ini, sudah menjadi ketentuan dan kehendak Allah SWT, yang tidak bisa diganggu gugat, maka tidak sepantasnya bagi kita untuk selalu menyalahkan pasangan kita secara terus menerus tanpa ampun,  akan tetapi yang paling tepat adalah justru dengan cara mudah memaafkan dan meminta agar pasangan kita mau merubahnya, sebab dalam Qs. Ar Ra’d ayat 11, Allah berfirman yang artinya :” .... Allah tidak akan merubah suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mau merubahnya ....”. 

Selanjutnya perlu diingat pula bahwa dalam kontek taqdir ini, kita tidak dibenarkan menjadikan kesalahan diri kita yang terkait dengan masalah dosa untuk disandarkan sebagai taqdir dari Allah SWT., seperti berselingkuh, berjudi, minum-minuman keras dan lain-lain, sebab itu semua adalah murni kesalahan diri kita yang telah melakukan pelanggaran terhadap aturan-aturan Allah, kecuali jika kesalahan itu disebabkan oleh sesuatu kejadian yang kita tidak bisa mengelak, seperti kebangkrutan, kekurangan ekonomi, kekurangan kondisi fisik kita karena sakit dan lain-lain, ini barulah bisa disandarkan bahwa itu adalah taqdir dari Allah SWT yang harus dihadapi dengan penuh kesabaran (keuletan).    

Bapak ibu yang mudah-mudahan diberi kesadaran oleh Allah,  bahwa setiap manusia hidup di dunia ini (semuanya, tanpa kecuali), mesti akan diuji oleh Allah SWT., sesuai keadaannya, dan ujian itu tidak akan pernah berakhir sebelum nafas kita berakhir (meninggal dunia), ibarat bahtera yang berlayar di lautan luas, sudah barang tentu bahtera itu tidak akan sepi dari goncangan ombak dan angin kencang. Begitu juga kehidupan rumah tangga yang kita alami ini, tidak akan pernah sepi dari berbagai permasalahan yang datang silih berganti,  termasuk beliau Rasulullah Saw sendiri sebagai manusia yang terbaik, yang harus kita jadikan teladan dalam kehidupan kita di dunia ini, juga rumah tangga beliau pernah digoncang masalah dengan para isterinya, namun dalam menghadapi permasalahan keluarga, beliau tetap berlaku bijaksana, selalu bersifat lembut dengan keluarganya, selalu membantu pekerjaan rumah tangga dan selalu menjadi contoh yang terbaik terhadap keluarga dan umatnya, dan inilah contoh teladan kita selaku umat islam.

Untuk itu, sikap kita yang terbaik dalam menghadapi ujian hidup ini adalah dengan memunculkan inti dari keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, yaitu dengan iman akan senantiasa muncul sifat sabar dan syukur dalam mengahadapi segala ujian yang datang dari Allah SWT, sehingga dikatakan dalam sebuah hadits, yang artinya “ alangkah indahnya, alangkah beruntungnya kehidupan orang yang beriman itu, ketika diuji dengan kesusahan, ia selalu bisa bersabar dan ketika diuji dengan kesenangan, ia selalu bisa bersyukur”. Begitu juga inti dari bertaqwa kepada Allah, yaitu kita bisa selalu ikhlas menerima ujian dari Allah SWT, seperti ikhlas menerima segala kekurangan pasangan kita, karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, dan semua kekurangan yang terjadi pada pasangan kita tidak lepas dari kehendak Allah SWT, yang tidak dapat kita hindari, selanjutnya kita berusaha untuk memaafkannya.

Kemudian jika kita menginginkan agar hidup ini sukses dan menyenangkan hati, maka syaratnya adalah kita harus bisa mengamalkan isi dari Surat Al-Anfal ayat 45-47, yaitu di sini ada 6 (enam) syarat, yang pertama kita harus tangguh dan istiqomah dengan nilai-nilai ajaran islam dalam menghadapi ujian apapun bentuknya, yang kedua kita harus selalu banyak ingat kepada Allah SWT. dimanapun kita berada, yang ketiga kita harus taat pada Allah dan Rasul Nya dengan cara berusaha untuk melaksanakan segala perintah Allah dan berusaha menghindari larangannya, serta taat pada Rasulullah Saw, dengan cara berusaha melaksanakan 7 kebiasaan Rasulullah yang tidak pernah ditinggalkan oleh beliau, seperti (shalat tahajjud, membaca al-Qur’an dengan maknanya, memakmurkan masjid dengan shalat berjama’ah, shalat sunnah dhuha, selalu bersedekah, menjaga wudlu terus menerus, dan selalu beristighfar setiap saat). Dan syarat yang ke empat hindarilah pertengkaran dengan cara mengingat-ingat kebaikan pasangan kita dan mengingat-ingat kesalahan serta kekurangan diri kita serta utamakan untuk segera saling memaafkan, dan yang terpenting bahwa itu semua adalah ujian dari Allah, yang kelima bersabar dalam menghadapai segala permasalahan bahwa itu semua datang atas kehendak Allah SWT, dan yang terakhir keenam adalah ikhlas karena Allah semata dalam menerima kekurangan apapun, baik yang datang dari pasangan kita maupun dari diri kita sendiri.

Setelah nasehat ini selesai, barulah kita masuk pada penyebab terjadinya pertengkaran antara para pihak, misalkan penyebab pertengkaran adalah masalah ekonomi kurang cukup, maka nasehatilah tentang kekurangan ekonomi, bahwa sesungguhnya dalam Qs. Al Baqoroh ayat 155, dijelaskan: “ Allah telah menguji manusia dengan rasa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan lain lain...”, artinya jika kita menyadari bahwa itu semua sudah menjadi ketentuan dan kehendak Allah, maka semestinya kita harus bisa menerima apa adanya sebagai orang yang qona’ah, dengan penuh kesabaran, tanpa harus menimbulkan pertengkaran, sebab sangat tidak pantas jika Allah mentaqdirkan pada diri kita ditimpa kekurangan ekonomi, kemudian kita saling menyalahkan pasangan kita masing-masing, dan mengedepankan emosi dari nafsu kita dengan mengambil jalan yang salah yaitu bercerai padahal itu sangat dibenci oleh Allah meskipun itu halal.

Dan janganlah sekali-kali kita beranggapan bahwa dengan memilih pasangan yang kaya, lalu hidup kita akan bahagia, itu adalah anggapan yang sangat keliru, sebab dalam sebuah hadits dikatakan yang artinya: “ kawinilah wanita karena 4 hal, yaitu karena kecantikannya, karena keturunannya, karena harta kekayaannya dan karena agamanya, tapi pilihlah dengan patokan yang agamanya baik, sebab hal itu akan bisa menyenangkan dan menentramkan hati kalian”.

Sehingga tidak benar kalau yang penting pasangan kita kaya, agama tidak penting, lalu hidup kita menjadi bahagia, sebab yang sering terjadi di kalangan masyarakat pada umunya adalah justru sebaliknya, yaitu kita akan selalu merasa sering tersakiti hatinya, sebab ternyata suami yang kaya tapi miskin agama, dia akan menganggap dirinya adalah orang yang paling sukses karena punya kemampuan yang luar biasa, dan lupa bahwa itu semua sebenarnya murni titipan dari Allah, akibatnya dia tidak akan mensyukuri kekayaan itu, melainkan akan menggunakan kekayaan itu untuk memenuhi tuntutan nafsu syahwatnya, seperti untuk selingkuh dimana-mana dan akan bersikap semena-mena dengan meninggalkan kewajibannya sebagai seorang suami yang baik.

Sebaliknya jika kita cari isteri yang cantik dan kaya tapi miskin agama, sedang penghasilan kita di bawah penghasilan isteri atau bahkan kita tidak bekerja, maka yang akan terjadi adalah sang suami akan menjadi pembantu rumah tangga, tidak mendapat penghormatan sama sekali dari isterinya dan tidak bisa memimpin isteri, padahal fitrah laki-laki dalam islam adalah sebagai pemimpin (Qowwam) bagi isterinya. Akhirnya yang terjadi adalah isteri sulit diatur maupun dikendalikan, sering menolak ajakan suami dan lain-lain.

Sementara itu orang yang baik agamaya, ketika ditinggal pergi akan menjaga harta dan kehormatannya.  Sebaliknya wanita yang cantik tapi miskin agamanya, maka akan menyusahkan hidup kita,  karena jika isteri kita terlalu cantik, sudah barang tentu kita akan selalu khawatir dan was-was ketika meninggalkan isteri sendirian di rumah sementara kita sedang bekerja, sebab saat kita mengajak jalan-jalan bersama isteri di tempat umum saja, banyak orang yang memperhatikan dan melototi isteri kita, apalagi jika isteri yang cantik itu hanya cantik luarnya saja sedang dalamnya (agamanya) tidak ada, maka sudah barang tentu isteri kita akan melayani ajakan dan gangguan dari para sipenggoda, dan atau dia akan selalu menuntut yang serba mahal, karena mentang-mentang banyak laki-laki yang suka padanya. Ini realita umum yang ada di dalam kehidupan masyarakat sekarang ini. Oleh karena pilihlah yang agamanya baik, meskipun cantiknya pas-pasan saja, karena untungnya isteri yang kurang cantik wajahnya, kita tidak khawatir akan digoda oleh laki-laki lain ketika kita pergi bekerja, dan biasanya isteri yang kurang cantik tidak akan menuntut yang mahal-mahal. 

Oleh sebab itu janganlah mengejar-ngejar wanita yang cantik atau laki-laki yang tampan tapi miskin agama, karena akan sering menyakitkan hati kalian, tapi pertahankan yang telah ada ini dengan memupuk rasa kasih sayang kita dengan cara belajar sedikit demi sedikit nilai-nilai ajaran islam untuk bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama terhadap pasangan kita masing-masing. Dan jangan pernah puas dengan pemahaman kita terhadp nilai-nilai ajaran islam selama ini, sebab masih banyak sekali ilmu-ilmu ajaran islam yang perlu kita pahami, yang bisa menjadikan hati kita lembut, akhlak kita baik, kesabaran kita kuat dan lain-lain, sehingga gunakan Hp ini untuk mencari pemahaman islam melalui goegle, jangan gunakan untuk perselingkuhan baik melalui sms, catingan maupun fesbookan. 

Jadi intinya dengan mengedepankan kekayaan maupun keindahan wajah, tapi jauh dari pemahaman dan pengamalan agama, maka kehidupan rumah tangga, tidak akan nyaman selamanya dalam perasaan hati kita. Oleh karena itu  mari kita perbaiki bersama, dengan cara kita kembalikan seluruh permasalahan kita pada Allah SWT yang menguasai kita, yang mengatur kita, yang memberi rizki pada kita dan yang memberikan kebahagiaan kepada kita semua serta yang memberikan solusi terbaik bagi kita. 

Kemudian jika salah satu pihak berbuat selingkuh dengan orang lain, maka ketahuilah bahwa selingkuh itu dosa, bukan ibadah, padahal Allah memerintahkan agar segala tindakan kita di dunia supaya bernilai ibadah, sehingga Allah menetapkan bahwa berhubungan badan dengan pasangan kita adalah ibadah, sebagaimana berzina juga dosa. Dan karena berzina itu dosa, maka pasti Allah akan memberikan azabnya bisa saja di dunia berupa berbagai penyakit yang mematikan atau rumah tangganya selalu panas, dan atau berupa dosa besar yang harus diterima balasannya di akhirat kelak.

Begitu juga jika kita selalu menyenangkan pasangan kita dengan selalu berhubungan badan sebagai nafkah batin suami terhadap isterinya, maka hidup kita akan selalu berkah, dan yakinlah bahwa rasa nikmatnya orang berhubungan badan dengan pasangan kita akan sama dengan orang lain, sehingga diibaratkan memilih mana makan daging bangkai yang haram dengan memakan daging segar yang halal, tentu kita akan lebih memilih memakan daging segar yang halal, itulah pasangan kita yang sudah menjadi suami isteri sah.  

Jika para pihak bersikeras untuk memilih bercerai, berarti kita telah memilih sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT, oleh karena bercerai itu sesuatu yang dibenci Allah, maka yang akan terjadi nanti bukan sesuatu yang meringankan beban kita, melainkan akan menambah beban permasalahan baru yang lebih beresiko lagi, yaitu :

Yang pertama, ketika kita bercerai, maka yang menjadi kurban adalah anak-anak kita, sebab sampai kapanpun anak itu menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya hingga anak dewasa atau mandiri, sementara kalian berdua akan hidup sendiri-sendiri, sebagai orang lain, akibatnya bisa terjadi saling berebut anak atau sebaliknya saling melepas tanggung jawab untuk mendidik anak, akibatnya anak menjadi terlantar.

Yang kedua, jika kalian menikah lagi dengan orang lain, maka anak-anak bawaan kalian akan menjadi masalah tambahan yang dapat mengganggu ketentraman rumah tangga kalian dengan pasangan baru. 

Yang ketiga, selain masalah anak, tujuan pernikahan kalian yang sudah lama dijalani, yang mungkin hampir mencapai finis, akhirnya tujuan menjadi bubar berantakan. Seperti tujuan untuk memiliki rumah idaman, transportasi idaman dan ibadah haji bersama menjadi kacau, begitu juga untuk mendidik anak menjadi  shaleh/shalekhah akan sulit tercapai sebab rumah harus dibagi dua, begitu juga motor ataupun mobil dan hajipun tidak menentu lagi, mendidik anak pun menjadi tidak seirama.

Yang keempat, jika kalian menikah baru, maka tujuan hidup di dunia akan dimulai dari nol lagi, sementara usia kita sudah semakin tua, tapi jika kalian rukun kembali, maka kita tinggal melanjutkan tujuan kita yang belum tercapai dalam membina rumah tangga ke depan.  

Dan jika kita memilih untuk rukun kembali, lalu mencabut gugatan cerainya, maka insya Allah rumah tangga kalian berdua akan menjadi berkah dan permasalahan akan bisa diminimalisir, dibanding jika kalian tetap melanjutkan perceraian.  

Kemudian, jika salah satu pihak sebagai penjudi atau pemabuk atau terlibat narkoba, maka ketahuilah sekali lagi bahwa Allah menjadikan diri kita hanya untuk beribadah, bukan untuk mengumbar hawa nafsu. Dan semua yang diperintahkan oleh Allah itu mesti akan bermanfaat dan menjadi kebaikan bagi manusia itu sendiri, seperti ketika kita berjudi, maka sebenarnya kita telah merusak tatanan kehidupan yang baik menjadi kehidupan yang rusak dan tidak sehat, karena tidak ada sejarahnya orang kaya di dunia ini disebabkan karena menang judi, tapi justru sebaliknya dengan judi, orang menjadi miskin tidak punya apa-apa dan kaya akan hutang dimana-mana, akibatnya tukang judi akan bersikap kasar terhadap pasangannya. Begitu juga dengan narkoba maupun minuman keras, sesungguhnya sesuatu yang dilarang Allah itu akan membahayakan kesehatan tubuh kita, sehingga tidak sedikit orang yang telah tercandu oleh narkoba dan pemabuk itu akan merusak oragan-oragan tubuh yang penting, dan lambat laun ketika menjelang tua, jantung, paru-paru dan hati kita menjadi rusak karena akibat menkonsumsi barang-baranag terlarang tersebut. Disamping dampak dunia akan membahayakan diri kita seperti hidup akan berantakan dan fisik akan menjadi rusak serta shalat dan do’a akan jauh dari diterima ataupun dikabulkan Allah SWT., maka di akhirat kelak pun akan menjadi orang yang dimurkai oleh Allah SWT, dan akan menjadi orang yang sangat menyesal.

Jika kemudian para pihak tiba-tiba mengatakan hubungan kami berdua sudah tidak ada kecocokan lagi, maka perlu dijelaskan bahwa sesunguhnya tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, mau dicari dimanapun dan sampai kapanpun tidak akan pernah menemukan yang namanya  pasangan itu cocok dan sesuai  dengan selera, harapan kita, sebab kehidupan suami isteri adalah pertemuan antara dua jenis manusia yang berbeda karakter menjalani kehidupan secara bersama-sama, sudah barang tentu dibutuhkan adanya persamaan persepsi, adanya saling memahami dan perlu penyesuaian antara keduanya dengan melalui berbagai permasalahan dan perselisihan yang timbul dalam waktu yang tidak singkat, selain itu sifat manusia itu sendiri tidak pernah sepi dari  berbagai kekurangan dan kelemahan, karena memang manusia diciptakan oleh Allah SWT. dalam keadaan lemah, sebagaimana Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 28 di atas.

Oleh karena dalam mengarungi kehidupan berkeluarga ini, sangat dibutuhkan kedewasaan dan kematangan jiwa untuk menghadapi masalah-masalah rumah tangga yang bermunculan. Dan dalam islam kedewasaan serta kematangan itu hanya dimiliki oleh orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT sebagaimana telah diuraikan di atas.  

 Apalagi kita tahu, bahwa Qs. Ath-Tholak (65) ayat 2, barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah  akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan yang ada.  

           Dan selain berupaya untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa dengan sebenar-benarnya, juga perlu disempurnakan dengan adanya saling husnuzhzhan antara suami isteri, yaitu menjauhkan diri dari mengungkit-ungkit kejelekan masa lalu pasangan kita, dengan cara berusaha menutupi kesalahan pasangan kita dan mengingat kebaikan pasangan kita, karena barang siapa menutupi aib orang lain termasuk pasangan kita, maka Allah akan menutupi aib dan kejelekan kita di akhirat nanti. Dan sebalikmnya siapa yang membuka/membeberkan aib orang lain termasuk saudara kita atau pasangan kita, maka Allah juga akan membuka dan membeberkan aib dan kejelekan kita di akhirat nanti. Dan juga siapa yang mempermudah urusan di dunia, maka urusannya akan dipermudah di akhirat nanti, dan siapa yang mudah memaafkan orang, apalagi pasangan hidup kita, maka itu lebih dekat dengan sifat taqwa.  

           Dan sebagai kata akhir, jika kita bisa ikhlas menerima segala kekurangan pasangan kita, bisa bersyukur menerima kelebihan pasangan kita serta bisa bersabar terhadap  permasalahan bahwa semua yang terjadi adalah merupakan sebuah ujian dan kehendak dari Allah Swt, kemudian bisa memaafkan dengan dada yang lapang terhadap pasangan kita, maka semakin besar peluang kita untuk merasakan kehidupan rumah tangga ini dengan sakinah mawaddah wa rahmah serta akan membuka peluang besar masuknya kita ke dalam surganya Allah Swt. Mau apa lagi kalau ingin masuk golongan yang beruntung tentunya akan berfikir jernih dan akan mencabut perkara ini dengan segera dan sebaliknya jika tidak mau mencabutnya, maka Rasulullah telah bersabda bahwa cerai adalah hal yang Allah benci meskipun dihalalkan dan itu hanya bisa dilakukan jika dalam keadaan yang sangat darurat.

           Namun demikian saya hanyalah sekedar memberi saran saja kepada kalian, kalau kalian mau bersatu kembali dalam satu ikatan yang kuat sebagai suami isteri, maka itu adalah harapan kami dan sangat disukai oleh Allah SWT.  Dan saya berharap dan berdo’a semoga sepulang dari sini kalian berdua mau memikirkan apa yang saya sampaikan tadi dan semoga kalian mendapat petunjuk dari Allah sehingga sidang yang akan datang, kalian sudah rukun kembali sebagai suami isteri yang baik, dan berubah menjadi pasangan yang shaleh dan shalehah. Amiin, amiin, amiin ya Rabbal ‘Aalamiin.

          Lalu bagaimana pendapat bapak ibu sekalian, apakah hari ini mau dicabut atau pikir-pikir dulu, saya serahkan kepada kalian berdua.

 

B.  DALAM PERKARA HARTA WARIS / HARTA GONO GINI

Bapak Ibu, perlu difahami bersama bahwa hidup di dunia ini hanyalah sebentar dan sementara, sebagaimana orang yang sedang melancong dan berhenti sejenak untuk istirahat, setelah itu kita harus melajutkan perjalanannya lagi menuju ke tujuan yang sebenarnya yaitu alam akhirat, alam pembalasan yang abadi. Dan di dalam pemberhentian di dunia yang hanya sesaat ini,  janganlah kalian beranggapan bahwa dunia ini sebagai satu-satunya kehidupan yang harus dinikmati, sebab dunia ini sebenarnya merupakan daarul ‘amal yang pendek waktunya, sebagai tempat ujian untuk dibalasi di akhirat kelak. Sedangkan alam akhirat adalah “daarul jaza’, alam pembalasan yang panjang (abadi), sebagaimana Qs. 21 ayat 35 :” Kami akan mengujimu dengan keburukan & kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu akan dikembalikan”.

Ibnu Mas'ud berkata : "Manusia tidak menjalankan aktivitasnya kecuali hanya seorang tamu, dan harta yang dicaripun hanya sebuah pinjaman. Tentunya tamu akan pulang dan pinjaman pasti dikembalikan".

          Dan Ibnu Abbas RA berkata : "Sungguh Allah SWT menjadikan dunia pada 3(tiga) bagian : sebagian untuk orang mukmin, sebagian untuk orang munafik dan sebagian lagi buat orang kafir. Orang mukmin jelas untuk mempersiapkan bekal, orang munafik dipakai untuk berhias dan orang kafir untuk bersenang-senang".

Tinggal kita merasa sebagai seorang mukmin atau tidak, jika kita merasa sebagai seorang mukmin tentu carilah harta yang halal, karena bekal akhirat hanya diterima manakala bekal itu bersumber dari harta/barang yang halal.

          Dalam sebuah hadits dijelaskan, bahwa Jabir bin Abdillah ra bekata, “Rasulullah SAW pernah memasuki sebuah pasar yang di kanan kirinya dipadati manusia. Ketika itu beliau melewati seekor kambing kuper (telinganya kecil) yang telah menjadi bangkai. Lantas Beliau menenteng telinga kambing itu seraya berseru, “Siapakah yang mau membeli kambing ini dengan harga satu dirham?” Pengunjung pasar menjawab, “Sedikitpun kami tidak menginginkannya“. Beliau bertanya lagi, “Apakah kalian mau jika anak kambing ini kuberikan cuma-cuma kepada kalian?” Mereka menjawab, “Demi Allah, kalaupun anak kambing itu hidup, kami tidak akan menerimanya karena cacat, maka bagaimana kami mau menerimanya setelah menjadi bangkai?” Mendengar hal ini Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya dunia itu lebih hina dalam pandangan Allah daripada bangkai kambing kuper ini dalam pandangan kalian” (HR. Muslim).

Diriwayatkan lagi bahwa “Sesungguhnya Nabi SAW berdiri di dekat tempat sampah, beliau SAW bersabda : "Mari kita lihat dunia". Kemudian beliau SAW mengambil pakaian usang dan rusak di bak sampah itu, berikut beberapa tulang yang hancur. Beliau SAW bersabda : "Inilah dunia, sebagai lambang bahwa perhiasan dunia akan rusak seperti tulang-tulang ini".

Kalau ada orang sayang atau memakan bangkai, maka ia dianggap tidak siuman. Tetapi sekiranya ia gunakan bangkai untuk menyuburkan tanamannya dan hasilnya menjadi buah subur yang dapat dimakan, itulah orang cerdik dan siuman. Demikian juga dengan dunia, ia cuma ‘tempat tanaman’ atau ‘alat’ untuk menyuburkan amalan yang diperintahkan dan sesudah itu hasilnya akan dipungut dan diambil faedahnya (pahala) di akhirat nanti.

Demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut, air yang tersisa di jarinya ketika diangkat itulah nilai dunia” (dari Al-Mustaurid ibn Syaddad r.a, Hadits Riwayat Muslim). Artinya dunia yang saat ini direbutkan oleh banyak manusia itu jumlahnya sangat sedikit sekali dan terbatas, sementara akhirat yang jumlah kenikmatannya tak terbatas kenapa kita tidak mau berebut.

Bahkan, para nabi dan orang-orang shaleh, memandang dunia sebagai sesuatu yang tidak  memiliki nilai sama sekali dan mencintai dunia merupakan sumber malapetaka (HR. Baihaqi dalam Syu'abul Iman). Sehingga segala macam kerusakan yang terjadi di muka bumi ini, sebagian besarnya disebabkan oleh sikap kita yang terlalu cinta terhadap dunia. Hingga muncul pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, permusuhan sesama saudara, mendzalimi saudaranya sendiri  dan kerusakan-kerusakan lainnya merupakan buah dari menipisnya keimanan terhadap hari akhir dan kecintaan kita terhadap dunia yang berlebihan.

Lukman berkata : "Wahai anakku, dunia ibarat laut yang dalam, dia telah menenggelamkan banyak manusia. Maka perahumu ialah takwa kepada Allah 'Azza Wa Jalla, muatannya iman kepada Allah SWT, dan layarnya berupa tawakkal pada-Nya agar kamu selamat. Dan aku melihatmu saat ini bukan orang yang selamat".

Inilah penggambaran luar biasa yang menunjukkan betapa tak ada nilainya dunia ini dibanding keluarbiasaan alam akhirat yang sering dilupakan oleh manusia.

Bapak ibu yang sedang diuji masalah oleh Allah SWT, pesan Rasulullah yang jelas seperti itu kenapa kita tidak sikapi saja dengan baik untuk keselamatan hidup kita ke depan, supaya hidup menjadi berkah dengan harta yang halal dan di akhirat akan lepas dari keadilan Allah SWT. Sebab barang siapa yang mempermudah urusan di dunia, maka Allah akan mempermudah urusannya di Akhirat kelak. Dan siapa saja yang mempersulit atau merugikan saudara kita di dunia, maka di akhirat kelak kita juga akan dipersulit dan akan mengalami kerugian besar yang sulit untuk ditebus dengan apapun. 

Oleh karena itu saya menghimbau kepada bapak dan ibu alangkah indahnya hidup kita kalau perkara ini kita akhiri dengan perdamaian secara kekeluargaan, sehingga hubungan sillaturrahim tetap terjalin, hidup menjadi berkah, dijauhkan dari bala’ dan bencana/musibah baik di dunia maupun di akhirat. Apalah artinya kita menang hanya mendapat keuntungan secara kasat mata katakanlah sejumlah Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah), tetapi ternyata hukuman Allah lebih besar dari jumlah itu, apalagi kalau kemenangan kita hanya dibawah dari jumlah itu.

Ingatlah, bahwa sebaiknya jauhkan nafsu kita dan kedepankan akal dan hati kita, sebab nafsu akan selalu ambisi untuk mengeruk dunia yang sebanyak-banyaknya, hingga dikatakan dalam sebuah hadits : “Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Seandainya anak keturunan Adam diberi satu lembah penuh dengan emas, niscaya dia masih akan menginginkan yang kedua. Jika diberi lembah emas yang kedua, maka dia menginginkan lembah emas yang ketiga. Tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Al-Bukhari No.6438).  Dari hadits ini, bisa kita katakan untuk apa kita mengumpulkan harta yang banyak kalau akhirnya nanti akan menjadi rebutan anak-anak kita yang tidak mau mendo’akan kita sebagai pahala jariyah (anak shaleh yang selalu mendo’akan orang tuanya).

Bapak Ibu, perlu diketahui bahwa dalam berperkara, boleh saja yang pintar akal, kuat ekonomi dan kuat bukti akan selalu menang dalam peradilan di dunia, karena pengadilan manusia sifatnya terbatas tidak dapat menjangkau kebenaran yang hakiki, tapi kita harus ingat bahwa masih ada peradilan di akhirat yang pasti akan ditegakkan keadilan yang hakiki. Dan ingat pula bahwa kemenangan secara curang adalah termasuk golongan orang-orang yang sangat mencintai dunia dan orang yang mencintai dunai tidak akan membawa pada kesenangan hidup, karena Nabi SAW juga bersabda : "Barangsiapa yang mencintai dunia, Allah tidak akan menolongnya dalam urusan apapun. Selain itu Allah akan menempatkan 4 hal dalam hatinya: 1. Selamanya dirundung kesusahan, 2. Diberikan kesibukan yang tak pernah berhenti, 3. Selamanya akan merasakan fakir, tidak pernah merasa cukup (selalu butuh dan butuh, bahkan kurang dan kurang), dan 4.Khayalannya tidak akan berhenti untuk selamanya.

          Apalagi kalau kecintaan kita terhadap dunia hingga sampai berbuat meandzalimi saudara kita maupun orang lain, dengan cara batil sehingga dapat memenangkan perkaranya di pengadilan dengan cara mendzalimi saudaranya, merampas hak orang lain, maka kemenangan itu akan dijauhkan dari keberkahan dan lebih bahaya lagi do’anya orang yang terdzalimi itu akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Apa itu yang dimaksud tidak berkah, yang dimaksud adalah tidak memberikan dampak positif bagi kita baik di dunia maupun di akhirat, seperti misalnya :

1.  Anak-anak yang diberi makan dan diberi sarana dengan harta tidak halal (seperti hasil memenangkan lawan perkara) yang tidak benar (dengan cara batil), ada kemungkinan akan membuahkan anak-anak kita menjadi nakal, sulit diatur, dan bisa saja lari pada pergaulan yang tidak kita inginkan, seperti narkoba, minum-minuman keras, judi online dan lain-lain.

2.  Dan bisa juga harta yang kita makan dan kita nikmati dari cara mendzalimi orang lain, ada kemungkinan akan menjadi sumber pernyakit di dalam tubuh kita, yang bisa menghabiskan harta, seperti gagal ginjal, kanker ganas dan lain-lain, karena ini boleh jadi menjadi salah satu hukuman atau pelajaran dari Allah bagi orang yang mendzalimi orang lain.

3.  Atau  terkadang  bisa  juga  harta  hasil  kemenangan  dalam  berperkara  ini langsung diambil oleh Allah

dengan kebangkrutan dalam usaha, atau dengan berbagai musibah kecelakaan yang dikehendaki oleh Allah SWT. 

4.  Atau kalau ternyata kalian merasa aman tidak ada masalah, maka keadilan Allah masih akan berlanjut di hari akhirat kelak, tentunya kita harus ingat dalam akhir ayat Surat At-Tin yang berbunyi : “Bukankah Allah Dzat Yang Maha Adil”. Dalam arti jika pembagian didunia sudah sepakat tanpa masalah, maka di akhirat sudah tidak dipermasalahkan lagi, akan tetapi jika pembagian di dunia tidak adil karena melalui pengadilan yang hanya akan berpegang pada bukti-bukti formal saja, maka akan diadili lagi oleh pengadilan Allah Yang Maha Adil, disinilah keadilan pasti akan tegak.

          Akhirnya kami hanya bisa mengajak pada kalian semua, bahwa hukum Allah pasti akan terjadi dan mesti akan berlaku secara adil pada kalian semua. Kalau kalian percaya pada hukum Allah, maka sebaiknya kalian saling bersikap jujur dan bersikap adil dan selanjutnya perkara ini bisa kita akhiri dengan pembagian secara semestinya, secara adil dan secara kekeluargaan, dan hal seperti ini lebih dekat kepada kebaikan serta akan terjaga tali silatuirrahim diantara kalian semua dan akan menjadi harta yang diberkahi Allah SWT.

Akan tetapi sebaliknya, jika kalian terus mengikuti nafsu serakah sebagai manusia, maka tidak mustahil hubungan persaudaraan kalian akan terjadi putus hubungan, dan ingat do’anya orang yang kalah karena terdzalimi oleh salah satu dari kalian adalah maqbul dan siapa yang telah memutuskan tali sillatur rahim, maka rizkinya di dunia akan sulit dan di akhirat akan mendapat siksa yang berat dari Allah SWT. Na’udzubillahi min dzaalik.

Bapak ibu yang saya hormati, kalau masalah harta gono gini, maka menurut aturan undang-undang sperti ini....dan pembagiannya seperti ini, jadi sudah jelas. Begitu juga masalah harta waris, maka pembagiannya menurut ilmu faro’id ahli warisnya adalah ini dan ini, lalu pembagiaannya adalah seperti ini.... jadi sebenarnya bisa dikatakan “alhalaalu bayyinun wal haroomu bayyinun”. Artinya kecurangan atau keculasan dalam pembagian nanti, yang mengetahui adalah kalian berdua, saya tidak mengetahuinya, kecuali hanya pesan saran kepada kalian semua hati-hati hidup yang hanya sekali ini jangan kita kotori dengan hal-hal yang berdosa, karena penyesalan di akhirat tidak ada gunanya.

Demikain tulisan yang dapat saya sampaikan sebagai sampling penasehatan, sekaligus sebagai sharing saja. Sebab saya tahu kita semua telah terbiasa menasehati orang, umumnya dalam mendamaikan saudara kita yang berselisih sebagai suatu kewajiban bagi setiap mukmin (Qs. Al-Hujurat ayat 10), dan khususnya dalam proses mediasi, namun demikian saya tetap mencoba untuk memunculkan tulisan ini dengan harapan bisa bermanfaat khususnya pada diri saya pribadi dan para pembaca pada umumnya, sebagai acuan awal untuk kemudian bisa dilengkapi dan dikembangkan sesuai keadaan para pihak yang akan kita mediasi nanti.

Sebelum dan sesudahnya mohon untuk dimaafkan.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi wabarokaatuh.