Selamat datang di website resmi Pengadilan Tinggi Agama Samarinda

features Artikel

 

Artikel

HUT RI ke-71

Print

  ”BAHWA KEMERDEKAAN IALAH HAK SEGALA BANGSA, OLEH SEBAB ITU MAKA PENJAJAHAN DI ATAS DUNIA HARUS DIHAPUSKAN KARENA TIDAK SESUAI DENGAN PRI KEMANUSIAAN DAN PRI KEADILAN “

  Oleh  Sutejo*

   Menghapuskan penjajahan di muka bumi adalah sebuah tugas mulia, karena berarti telah menyelamatkan manuasia dari kebinasaan baik di dunia maupun di akhirat kelak.  Pernyataan ini, perlu didukung dengan sebuah hadits Rasulullah di bawah ini, yang artinya :   

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya sebagai berikut :

Amr an-Naqid menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Hammad bin Salamah memberitakan kepada kami dari Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan didatangkan penduduk neraka yang ketika di dunia adalah orang yang paling merasakan kesenangan di sana. Kemudian dia dicelupkan di dalam neraka sekali celupan, lantas ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan sebelum ini? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan sebelum ini?’. Maka dia menjawab, ‘Demi Allah, belum pernah wahai Rabbku!’. Dan didatangkan pula seorang penduduk surga yang ketika di dunia merupakan orang yang paling merasakan kesusahan di sana kemudian dia dicelupkan ke dalam surga satu kali celupan. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesusahan sebelum ini? Apakah kamu pernah merasakan kesusahan sebelum ini?’. Maka dia menjawab, ‘Demi Allah, belum pernah wahai Rabbku, aku belum pernah merasakan kesusahan barang sedikit pun. Dan aku juga tidak pernah melihat kesulitan sama sekali.’.” (HR. Muslim dalam Kitab Shifat al-Qiyamah wa al-Jannah wa an-Naar) 

Hadits yang agung ini menyimpan banyak pelajaran berharga bagi kita, di antaranya :

1. Bahwa dunia adalah negeri cobaan dan tempat untuk beramal, sedangkan akhirat adalah negeri pembalasan, sehingga tidak sepantasnya untuk melakukan kedzaliman terhadap orang lain seperti melakukan penjajahan di muka bumi ini.

2. Kenikmatan dan kesusahan di dunia tidak ada artinya apa-apa, apabila dibandingkan dengan apa yang terjadi di akhirat kelak, sebab kenikmatan yang ada di surga bukan main nikmatnya sehingga sekali celupan saja bisa melupakan segala kesusahan hidup di dunia, dan sebaliknya kesengsaraan di neraka bukan main mengerikan dan menyakitkan,  sehingga sekali celupan di dalamnya bisa melupakan segala kesenangan dunia entah yang berwujud harta, wanita, kedudukan ataupun yang lainnya, padahal di akhirat itu kekal abadi, sedang di dunia hanya beberapa waktu yang bisa dihitung.

3. Bisa jadi sekarang ini orang-orang kafir hidup dalam keadaan serba mewah dan nikmat di dunia, namun kesenangan dunia saat ini bukanlah tanda kecintaan Allah kepada mereka, melainkan hanya sebuah kesenangan yang semu dan menipu, karena di akhirat kelak mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali siksa yang amat pedih di neraka, sedangkan kesenangan di surga adalah kesenangan yang sejati dan hakiki, yang mestinya tidak harus dilupakan.

4. Bahwa kehidupan kita di dunia ini tidak pernah lepas dari penilaian amal perbuatan kita, walaupun hanya sekali hembusan nafas kita, karena manusia diciptakan disertai dengan akal dan hawa nafsu, sehingga jika manusia bisa senantiasa taat kepada Allah, maka derajatnya akan lebih tinggi dari malaikat, sebab manusia disamping dibekali akal sebagaimana malaikat, manusia juga dibekali hawa nafsu yang selalu mengarahkan pada pelanggaran terhadap aturan Allah. Dan sebaliknya, jika manusia senantiasa berbuat dosa dan ma’siat, maka ia akan lebih hina dari binatang, sebab disamping manusia dibekali hawa nafsu seperti binatang, manusia juga dibekali dengan akal yang dapat mengendalikan hawa nafsunya. 

Jadi surga dan nerakanya kita nanti, tergantung pada perbuatan  kita masing-masing ketika berada di dunia saat ini. Sedangkan munculnya perbuatan manusia ke arah kebaikan ataupun keburukan, tergantung hasil dari pertarungan abadi antara hawa nafsu dengan akal di dalam jiwa kita, apakah peperangan itu dimenangkan oleh akal, ataukah di menangkan oleh akal, namun hawa nafsu belum menyerah secara total atau dimenangkan oleh hawa nafsu.

Sebab dari pertarungan itu nanti akan muncul sikap yang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya,  sebagaimana keterangan di bawah ini :

1. Jika peperangan itu dimenangkan oleh akal, maka akal lah yang akan memimpin hawa nafsu kita, sehingga di dalam jiwanya nanti akan muncul nafsul mut’mainnah, yaitu nafsu yang membuat jiwa kita tenang dalam ketaatan kepada Allah Swt, baik ketaatan di dalam berqurban maupun zakat, infak dan shadaqah. Karena nafsu ini telah mendapat rahmat dari Allah, dan nafsu ini akan mendapat ridlo di dunia maupun akhirat serta orang tersebut akan mencapai khusnul khotimah sebagai pintu untuk menuju surganya Allah Swt, sebagaimna firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Fajr ayat 27-30. 

Dan perlu diketahui bahwa pada umumnya peperangan itu lazimnya dimenangkan oleh hawa nafsu, kecuali jika akal itu dipersenjatai dengan iman yang kuat terhadap hari akhir dan ilmu (pemahaman) islam yang mendalam.

2. Selanjutnya jika nafsu yang kalah, namun belum menyerah secara total, maka ini adalah nafsu lawwamah (jiwa yang amat menyesali dirinya sensiri, sebagaimana dalam al-Qur’an surat al-Qiyamah ayat 2), yaitu nafsu yang sudah mengenal perbuatan baik dan buruk serta mengarahkan pada jiwa untuk menentang kejahatan, akan tetapi suatu saat jika manusia lalai beribadah kepada Allah, maka ia akan terjerumus lagi pada dosa dan ma’siat, karena nafsu lawwamah ini belum konsisten untuk menjalankan ketaatan dan meninggalkan dosa, sehingga nafsu ini akan selalu menyesali diri, ketika berbuat pelanggaran lagi.

3. Jika nafsu yang menang, karena akal kita dibiarkan tanpa ilmu agama dan lemahnya ibadah kita kepada Allah, maka akan muncul nafsul amarah, sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 53, bahwa nafsul amarah ini selalu mengarah pada perbuatan dan prilaku yang dilarang agama. Dan nafsu ini sangat membahayakan amalan kita di dunia sebab akan berperan sebagai penjajah terhadap jiwa kita yang senantiasa memaksa jiwa untuk melakukan apa saja yang diinginkan oleh nafsu, dan nafsu itu memiliki 3 watak dasar yang membahayakan jiwa, yaitu :

a. Sifatnya yang ekspansif (meluas), sebagai ciri dari hawa nafsu yang menonjol, yaitu tuntutannya cenderung ekspansif sebagaimana penjajah, sukar sekali untuk dapat terpuaskan dalam batas-batas yang masuk akal. Sehingga digambarkan oleh Rasulullah, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu al-Zubair tatkala di atas mimbar di Mekah dalam khutbahnya, beliau bekata : Wahai manusia sekalian, Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Seandainya anak keturunan Adam diberi satu lembah penuh dengan emas, niscaya dia masih akan menginginkan yang kedua. Jika diberi lembah emas yang kedua, maka dia menginginkan lembah emas yang ketiga. Tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Al-Bukhari No.6438) 

Hal ini tidak pandang usia, apakah usia manusia sudah senja atau belum, sebab di usia senja pun tidak sedikit manusia yang tetap rakus terhadap harta meskipun pada umumnya kerakusan itu seharusnya akan menurun di usia yang senja.

b. Hawa nafsu memiliki daya gerak/desak yang dahsyat, dan ini merupakan faktor terkuat bagi hawa nafsu untuk menggerakkan manusia, sebagaimana al-Qur’an Surat Yusuf ayat 53 di atas. 

c. Jika tuntutan hawa nafsu itu dipenuhi, maka tuntutan itu akan berlipat ganda berbanding lurus dengan pemenuhan tersebut, akibatnya kontrol manusia terhadap hawa nafsu menjadi melemah, yang akhirnya hawa nafsu akan menguat dan lama-kelamaan akan menguasai jiwa kita. 

Selanjutnya jika hawa nafsu menang dan berhasil menguasai jiwa manusia, maka kemenangan ini akan menular pada jiwa manusia yang lain, hingga terkumpul menjadi kelompok manusia yang berjumlah besar, yang mengabdi pada hawa nafsu, akhirnya tidak mustahil penjajahan di muka bumi ini akan bermunculan dimana-mana, dengan sifat-sifatnya yang  kejam, sadis dan bengis tanpa pri kemanusiaan, karena orang-orang yang hidupnya dipimpin oleh hawa nafsu, akan bersatu untuk mendapatkan pemenuhan dan kepuasan hawa nafsunya dengan cara menghalalkan segala macam cara yang ada.

Sekarang bangsa Indonesia telah merdeka sejak 17 Agustus 1945 yang lalu, kini bangsa Indonesia sedang memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke-71, namun rakyat Indonesia masih belum merasakan kemerdekaan yang seutuhnya, sebab hawa nafsu masih berkeliaran menguasai jiwa manusia di mana-mana.

Dalam sejarah kolonialisme, tidak terhitung berapa korban dari wilayah yang telah dijajah. Seperti dalam perang Dunia I dan II, telah memakan jutaan jiwa dan penderitaan bagi mereka yang masih hidup.  Perang Dingin dan Perang Melawan Terorisme yang dipimpin oleh AS juga telah menimbulkan banyak korban rakyat sipil.  Ribuan kaum Muslim di Irak dan Afganistan dibunuh atas dasar perang melawan terorisme yang penuh kebohongan. Embargo yang disponsori oleh AS telah membunuh lebih dari 1,5 juta rakyat Irak.

Akan tetapi, semua itu dianggap enteng oleh negara-negara imperilias yang telah mengutamakan hawa nafsunya. Seperti saat Collin Powel ditanya tentang terbunuhnya lebih kurang 200.000 rakyat Irak dalam Perang Teluk di era Bush Senior dulu, dengan entengnya dia menjawab, “Tidak begitu peduli dengan angka-angka itu.”

Juga Madeleine Albright (Menlu AS era Clinton) oleh koresponde CBS ditanya untuk komentar tentang jumlah korban rakyat Irak yang mencapai 800.000 orang akibat embargo PBB. Jawaban Albrigt sama kejamnya, “We think the price worth this, (Kami kira itulah harga yang pantas untuk itu).” Dan lain-lain tidak perlu disebutkan.

Hal ini sangat berbeda dengan Islam yang menjalankan perangnya atas dasar petunjuk Allah Swt., bukan hawa nafsu yang senantiasa mendukung akan adanya penjajahan. Meskipun dalam sejarah pengembangan islam juga melakukan ekspansi untuk berdakwah dan perluasan wilayah, namun ada aktivitas yang harus dilakukan sebelum perang, yakni mengajak mereka terlebih dulu memeluk Islam, jika tidak mau, maka mereka ditawari masuk dalam kekuasaan islam seraya membayar jizyah, meskipun mereka tetap pada agama mereka. Dan, dalam Islam, perang adalah merupakan pilihan yang terakhir.

Perang dalam Islam juga bukanlah perang yang membabi buta, tetapi perang dalam rangka futûhât (kemenangan islam), bukanlah untuk memerangi rakyat setempat, tetapi untuk menghilangkan penghalang-penghalang fisik, termasuk penguasa zalim yang menghalangi diterimanya Islam secara lapang dan jujur. Dan perang dalam Islam,  melarang membunuh orang-orang yang bukan termasuk tentara perang seperti anak-anak kecil, wanita, orang tua, dan para rahib di gereja-gereja. Tawanan perang pun diperlakukan dengan baik. Penggunaan senjata pemusnah massal seperti senjata nuklir dan senjata kimia hanya boleh digunakan kalau musuh menggunakan senjata yang serupa. Sebab, dalam Islam musuh harus diperlakukan setimpal. (Lihat: QS an-Nahl [16]: 126).

Motif, tujuan, dan cara berperang dalam islam, juga memberikan hasil yang berbeda. Seperti jihad yang dilakukan Islam telah memberikan kebaikan kepada setiap manusia. Penerapan aturan Islam yang adil kepada masyarakat yang ditaklukkan membuat mereka (yang ditaklukkan) tidak pernah merasa berbeda dengan yang menaklukkan mereka. Sebab, Daulah Khilafah Islam memberikan jaminan kebutuhan pokok, kesejahteraan, dan keamanan yang sama bagi seluruh warganya, tanpa melihat apakah dia merupakan rakyat yang ditaklukkan atau tidak. Mereka sama-sama hidup sejahtera di bawah naungan Islam.

Rasulullah sendiri sangat memperhatikan perlakuan terhadap ahlu dzimmah, agar mereka tidak disakiti dan dizalimi. Rasulullah juga melarang merusak tempat-tempat ibadah non-Muslim.

Dalam segi aturan hukum, ada persamaan yang tampak jelas dari pernyataan Rasulullah yang menyatakan akan memotong tangan pencuri meskipun itu adalah anaknya sendiri. Hal ini dipraktikkan oleh kepala negara (Khalifah) setelah beliau, sebagaimana diriwayatkan bagaimana seorang Yahudi dibebaskan dari tuduhan mencuri di pengadilan Islam karena tidak cukup bukti. Padahal yang memperkarakannya adalah pemimpin negara Islam sekaligus sahabat Rasulullah yang agung, yaitu Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Umar bin Khaththab, saat menjadi khalifah, juga pernah membebaskan tanah milik orang Yahudi yang dirampas untuk dibangun masjid. Khalifah menyuruh agar masjid itu dirubuhkan dan tanahnya dikembalikan kepada Yahudi. Dia juga pernah membebaskan seorang Yahudi tua yang tidak sanggup lagi membayar jizyah (bayaran yang diberikan warga non-Muslim kepada negara) karena memang tidak mampu. Bahkan Khalifah menyuruh bendahara Baitul Mal (lembaga keuangan negara) untuk menyantuni Yahudi tersebut.

Inilah peradilan islam, tentunya mengutamakan akal  yang telah diwaranai oleh iman dan ilmu pemahaman islam yang mendalam, bukan didominasi oleh hawa nafsu. Sehingga dapat memuaskan seluruh warga masyarakat pencari keadailan dari berbagai agama yang berbeda.

Oleh karena itu pada umumnya, rakyat yang negerinya ditaklukkan oleh Islam tidak menganggap Islam sebagai penjajah. Sebab mereka bisa menyatu dengan pemeluk Islam lainnya tanpa ada perbedaan dan bahkan mereka yang telah ditaklukkan menjadi pembela Islam. Tidak pernah didengar sama sekali bahwa rakyat Mesir, Suriah, Libya, atau Bosnia menganggap Islam sebagai penjajah, meskipun telah ditaklukkan oleh pasukan islam. Bahkan negeri-negeri itu dipenuhi dengan pejuang-pejuang Islam yang membela agamanya.

Berbeda halnya dengan penjajahan negara-negara imperialis yang lebih mengedepankan hawa nafsu dari pada akal yang dibimbing oleh agama. Hampir sebagian besar rakyatnya menganggap mereka adalah penjajah. Sehingga Indonesia, sampai kapanpun, akan menganggap Belanda dan Jepang sebagai penjajah, hingga muncul tek dalam alinea pertama dari Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang berbunyi ”Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan”. Begitu juga rakyat Mesir akan abadi menganggap Inggris sebagai penjajah, dan lain-lainnya.

Dan sebenarnya koruptor juga merupakan penjajah bangsa, sebab termasuk merugikan bangsa dan masyarakat. Mari kita mencoba mengingat sejenak tentang sosok Khalifah Umar bin Khaththab, yang selalu jalan-jalan malam, tapi bukan untuk mencari kesenangan, melainkan karena tugas seorang Khalifah/Presdiden/Raja menurut pandangan islam adalah menjaga keimanan rakyatnya, agar negara menjadi aman, nyaman dan damai tanpa ada penjajahan dalam bentuk apapun. Sehingga dalam perjalanan  malam yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab, telah didapati beberapa kejadian penting seperti si Penggembala kambing yang telah diuji imannya oleh Sang Khalifah agar menjual kambingnya seekor saja, juga telah dijumpai seorang ibu dan anak perempuannya yang sedang berselisih faham untuk membicarakan susu jualannya agar dicampur dengan air, sehingga menghasilkan untung yang banyak, juga dijumpai seorang ibu yang merebus batu untuk menidurkan anak-anaknya yang kelaparan dan lain-lain. Ini sebagai contoh agar rakyat yang dipimpinnya  tetap dalam keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, sehingga kehidupan wara negaranya senantiasa diliputi keberkahan dan kemakmuran serta terjauh dari musibah dan bencana.

Ibnu Mas’ud pernah berkata pada para sahabat dan para tabi’in : “Sesungguhnya kalian hidup di suatu zaman, di mana kebenaran yang menguasai hawa nafsu, namun kelak akan ada suatu zaman di mana hawa nafsu merajai kebenaran. Qs. An-nisa’ ayat 61.Ibnu Mas’ud pernah berkata pada para sahabat dan para tabi’in : “Sesungguhnya kalian hidup di suatu zaman, di mana kebenaran yang menguasai hawa nafsu, namun kelak akan ada suatu zaman di mana hawa nafsu merajai kebenaran. Qs. An-nisa’ ayat 61.

Jadi dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa untuk menghapus penjajahan di muka bumi ini, maka yang paling pertama dan utama dilakukan adalah  mengisi kemerdekaan ini dengan memperkecil kemenangan hawa nafsu dalam jiwa kita, terutama pada diri kita masing-masing, selanjutnya pada keluarga kita, lingkungan masyarakat sekitar kita dan kemudian merambah ke masyarakat secara luas.

Dengan demikian insya Allah negara kita akan subur makmur dan sejahtera, akan terbebas dari kefakiran dan kemiskinan serta lilitan hutang piutang.

Demikian yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan dengan peringatan HUT RI yang ke-71 ini, kita sebagai bangsa Indonesia bukan saja sekedar peringatan dengan acara rutinitas belaka, namun ada kemajuan di bidang mental kita, sehingga penjajahan betul-betul dapat kita jauhkan dengan sejauh-jauhnya. Amiin, Amiin, Amiin, Ya Rabbal ‘Aalamiin. 

 

*Penulis adalah Hakim pada Pengadilan Agama Balikapapan