Selamat datang di website resmi Pengadilan Tinggi Agama Samarinda

features Artikel

 

Artikel

Taqwa sebagai Bekal.....

Print
TAQWA SEBAGAI BEKAL UNTUK SUKSESNYA KEHIDUPAN
DI DUNIA DAN AKHIRAT
 
Ditulis oleh Drs. Sutejo, S.H., M.H.*
 

Alhamdulillah kita baru saja selesai menjalankan ibadah Shiyamu Ramadhan, semoga kita menjadi orang yang bertaqwa. Sebab tujuan Allah mewajibkan kita (orang yang beriman) untuk berpuasa adalah agar menjadi orang yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 183.

Kenapa hanya taqwa yang ditekankan oleh Allah Swt. kepada kita, hingga disetiap khutbah Jum’at pun diwajibkan untuk berwasiat taqwa sebagai salah satu rukun dalam khutbah jum’at. 

Selain itu, apabila pada momen ramadhan sebagai bulan pembinaan yang telah berlalu ini, ternyata  kita belum bisa merubah diri kita menjadi orang yang bertaqwa, maka Allah dengan penuh kasih sayang masih memberikan kesempatan selama kita masih hidup di dunia, yaitu dengan memberikan sarana berupa ibadah secara umum agar kita tetap berusaha untuk menjadi orang yang bertaqwa, sebagaimana difirmankan Allah dalam Qs. Al-Baqarah ayat 21, yang artinya “ Wahai manusia sembahlah Tuhan mu, Tuhan yang telah menciptakan kalian semua dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa”. 

Jadi sebenarnya apa urgensi taqwa bagi kita umat manusia, sehingga Allah begitu serius memperingatkan manuasia untuk menjadi orang yang bertaqwa. Dan ternyata predikat taqwa yang diperintahkan oleh Allah Swt. itu sangatlah penting bagi kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Sebab dalam firman Allah surat al-Baqarah ayat 194, Allah berfiramn yang artinya :

“ -----bertaqwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertaqwa”.

Kita tahu, bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya, Maha Kuasa, dan Maha Segala-galanya, sehinga sangatlah beruntung apabila kita selalu dibersamai oleh Allah Swt.

Oleh karena itu dengan kebersamaan Allah terhadap orang-orang yang bertaqwa itulah, maka kita sangat membutuhkan bekal taqwa, karena dengan bekal taqwa, kita akan mendapatkan bantuan dan pertolongan dari Allah Swt. Bantuan dan pertolongan itu antara lain untuk bisa berjaya dalam bidang ekonomi, untuk bisa memperoleh kemenangan dalam berjuang di jalan Allah baik musuh secara nyata maupun yang tersembunyi yang sangat membahayakan yaitu hawa nafsu kita, dan juga untuk dapat terlepas dari azab dan bencana di dunia serta untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia, karena segala urusannya akan menjadi mudah (Qs. 65 : 4), selalu ada jalan keluar ketika menghadapi kesulitan (Qs. 65 : 2), diberikan rizki dari jalan yang tiada terduga (Qs. 65 : 3), akan diwarisi bumi tempat kita berpijak oleh Allah swt. (Qs. 21 : 105), akan diberi ilmu oleh Allah Swt (Qs. 2 : 282), dan akan dibela atau dilindungi  oleh Allah Swt (Qs. 45 : 19) serta hidupnya dalam keadaan diberkahi oleh Allah Swt.

Jadi hidup yang bahagia adalah hidup yang urusannya selalu mudah, dalam setiap menghadapi kesulitan selalu ada jalan keluar, mendapatkan rizki dari jalan yang tiada terduga, mendapat hak di atas bumi ini, mendapatkan ilmu dari Allah Swt, akan selalu mendapat perlindungan dari Allah dan hidup selalu diberkahi Allah Swt.

Namun perlu diingat bahwa orang kafirpun di dunia diberikan bantuan dan pertolongan, akan tetapi bantuan dan pertolongan itu sifatnya istidraj (tipu daya Allah dan Allah tidak ridha padanya), sehingga dengan semua itu orang kafir bukannya menjadi sadar dan kembali kepada Allah, akan tetapi justru akan semakin jauh dari Allah dan akan semakin gencar berbuat maksiat dan kemungkaran di muka bumi ini, yang tentunya akan menambah pedihnya siksaan di akhirat dan menjadikan siksaan itu kekal untuk selama-lamanya.

Adapun di akhirat nanti, orang yang bertaqwa akan diberikan pengampunan oleh Allah Swt. (Qs.8 :29), akan ditutupi kesalahannya (Qs. 8 : 29) dan akan diberi balasan pahala yang besar (Qs. 65:5), diterima amal ibadahnya selama di dunia dan akan masuk surga dengan penuh kehormatan (Qs. 19 : 63 dan 85).

Oleh karena begitu pentingnya taqwa bagi kehidupan kita, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin agar bisa menjadi orang yang bertaqwa, meskipun kita tahu bahwa untuk menjadi orang yang bertaqwa bukan hal yang mudah, sebab  harus melalui 5 tingkatan :

1.  Tingkatan pertama sebagai seorang muslim, dimana seorang manusia cukup hanya dengan mengucapkan 2 kalimat syahadat, walaupun belum melaksanakan kewajiban shalat, puasa, zakat dan haji, sudah bisa dikategorikan sebagai seorang muslim.

2. Tingkatan kedua sebagai seorang mukmin, yaitu orang yang telah beriman dan telah melaksanakan rukun islam seperti shalat, puasa, zakat dan haji sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan, akan tetapi masih saja melakukan perbuatan dosa dan maksiat.

3. Tingkatan ketiga sebagai seorang muhsin, yaitu seorang mukmin yang selalu merasa diawasi oleh Allah Swt., sehingga takut untuk berbuat maksiat kepada Allah Swt, namun dalam beribadah masih menginginkan pahala dari Allah Swt.     

4. Tingkatan ke empat sebagai mukhlis, yaitu seorang muhsin yang ikhlas, yang tidak mengharapkan apa-apa, tetapi tidak kreatif untuk berbuat sesuatu agar  diridhai Allah Swt.

5.   Tingkatan terakhir, sebagai muttaqin yaitu orang yang mengabdi kepada Allah dan berjuang di jalan Nya, semata-mata hanya untuk mendapatkan ridha dari Allah Swt.

Tingkatan ke lima ini adalah tingkatan yang paling tinggi dan tentunya paling berat untuk dilaksanakan, karena harus melalui 4 tingkat di bawahnya, dan taqwa itu sendiri mengandung 5 unsur yang harus selalu ada dalam diri orang yang bertaqwa, sebagai berikut : 

a.    Unsur mu’ahadah, yaitu selalu ingat akan janjinya kepada Allah Swt dalam setiap membaca surat alfatikhah ketika shalat, khususnya ayat  5,  yaitu “hanya kepada Mu saja kami menyembah dan hanya kepada-Mu saja kami minta pertolongan, (artinya tidak berani menyembah dan minta tolong kepada selain Alah Swt.)

b.    Unsur muroqobah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah Swt. kapanpun dan di mana saja kita berada, sehingga tidak berani melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam hidupnya.

c.  Unsur mu’aqobah, yaitu selalu memberi sanksi diri apabila melakukan pelanggaran atau kesalahan, dengan tujuan agar tidak mengulangi pelanggaran atau kesalahan berikutnya.

d.  Unsur mujahadah, yaitu bersungguh-sungguh berjuang di jalan Allah termasuk berjuang melawan hawa nafsu, yang senantiasa mengajak pada perbuatan jahat dan buruk. Di sinilah yang sering menjadikan manusia melakukan perbuatan penyimpangan demi untuk memperturutkan hawa nafsunya.

e.   Unsur muhasabah, yaitu selalu menghitung-hitung amal perbuatan kita antara yang baik dengan yang buruk, sehingga kita akan selalu berusaha untuk berjuang agar perbuatan yang baik lebih mendominasi daripada perbuatan yang jahat atau buruk, atau bahkan jangan sampai berbuat jahat atau buruk sekecil apapun.       

Jika dalam hidup kita (warga peradilan ini) selalu dijiwai oleh taqwa, maka insya Allah hukum akan tegak dengan adil dan dengan berjalannya hukum sesuai aturan yang berlaku atas dasar azas keadilan tersebut, sudah barang tentua negara akan menjadi negara yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofuur (hidup dalam suasana aman,damai dan penuh dengan kesejahteraan).       

Demikian sekedar sharing saja, sebagai kewajiban sesama mukmin untuk saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran, agar kita sebagai manusia yang sering lupa ini bisa teringat kembali akan nilai-nilai ajaran islam yang sangat bijaksana dan mulia.

Semoga bermanfaat bagi kita semua, khususnya untuk diri saya pribadi. Amin, amin ya Rabbal ‘Alamin.

 

*Penulis adalah Hakim pada Pengadilan Agama Balikpapan