Selamat datang di website resmi Pengadilan Tinggi Agama Samarinda

features Artikel

 

Artikel

Wanita dan Gender Suatu Kemitraan

Print

WANITA DAN GENDER, SUATU KEMITRAAN ?

Oleh: H. Abdullah Berahim*

 

A. Pendahuluan

Alhamdulillah dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, yang telah menciptakan makhluk-Nya yang bernama manusia ini yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Karena atas curahan rahmat, karunia dan hidayah-Nya jualah tulisan ini dapat disajikan ke hadapan pembaca yang budiman. Shalawat dan salam tidak lupa penulis persembahkan kepangkuan Rasulullah saw yang seharusnya menjadi panutan dan idola kita bersama, mudah-mudahan kita diakui sebagai umatnya yang bakal mendapatkan syafaat Beliau di akhirat kelak. Amin.

Berbicara tentang keberadaan kaum wanita saat ini, di era reformasi, era globalisasi, di era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini membuat seolah antara wanita dengan laki-laki sudah tidak ada perbedaan prinsip lagi dalam percaturan berbagai bidang kehidupan modern. Sehingga akhir-akhir ini, sebagaimana kita maklumi bersama bahwa menjelang tahun 2014, kita akan kembali mengadakan pesta demokrasi, pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Jauh-jauh hari sebelumnya partai-partai politik peserta pemilu telah sibuk mempersiap calon legislatifnya. Beberapa parpol bahkan mencari figur yang berasal dari kaum wanita atau perempuan sebagai kiat untuk mendongkrak popularitas partai. Untuk itu dicari wanita atau perempuan ternama untuk dapat dijadikan calon legislatifnya. Wanita yang tadinya sebagian adem ayem tinggal di rumah, atau yang sedang menggeluti professi lain, seperti para artis dan/atau pengusaha mencoba alih profesi menggeluti dunia politik mendaftar atau didaftarkan sebagai calon anggota legislatif, baik untuk caleg DPR, DPD, DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota.

Tidak terkecuali pada lembaga legislatif, banyak dari kalangan birokrat juga saat ini dicari wanita-wanita berprestasi untuk menduduki jabatan atau posisi tertentu dengan alasan gender. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila kita berkunjung ke suatu daerah tertentu menemukan ada beberapa kepala dinas atau pimpinan SKPD yang dengan sengaja lebih memilih wanita dari pada laki-laki, sekali lagi dengan alasan gender.

Bertolak dari situasi dan kondisi yang berkembang di sekitar kita saat ini, penulis mencoba mengajak para pembaca untuk melirik keberadaan wanita dan konteknya dengan gender, karenanya tulisan ini diberi judul “wanita dan gender,  suatu kemitraan?” 

B. Issu yang berkembang   

 

Berbicara masalah gender, sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan sejarah wanita menurut kacamata Islam. Sementara issu yang berkembang atau dihembuskan di era globalisasi saat ini bahwa ketertinggalan, keterbelakangan dan kebodohan wanita dalam skala global, termasuk di Indonesia adalah karena mereka (para wanitanya) beragama Islam. Sementara di dunia barat, wanita dan laki-laki, pria dan wanita sama-sama berada dalam kebebasan dalam semua lini kehidupan.

 

Issu negatif tentang wanita dalam Islam, bahwa wanita itu cukup menjadi ibu rumah tangga, mengurus suami dan anak/anak-anak. Wanita sebagai budak tidak perlu sekolah tinggi-tinggi tokh akhirnya akan ke dapur juga. Wanita tidak diperlukan jadi pejabat pemerintah dan berkarir di bidang politik.  Wanita  tidak perlu terjun ke dunia bisnis untuk menjadi pengusaha dan bermacam-macam issu negatif lainnya.

  

C. Konsep Gender

 

Melihat kondisi seperti issu tersebut lahirlah istilah emansipasi yang kemudian berkembang manjadi istilah gender. Emansipasi adalah merupakan pembebasan dari perbudakan, dan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Gender berarti jenis kelamin, yang memberikan arti bahwa wanita sebagai mitra dari laki-laki. Gender berarti penyetaraan antara laki-laki dan wanita. Konsep gender itu sendiri dapat dikwalifisir menjadi:

1. Gender equality, adalah memberikan perhatian lebih pada wanita dalam hal pemberdayaan masyarakat (dengan konsep kesetaraan gender).

2. Gender develovment index, adalah kesetaraan antara pria dan wanita dalam usia harapan hidup (life expectancy), pendidikan dan jumlah pendapatan.

3. Gender empowerment measure, adalah kesetaran dalam partisipasi politik dan sektor-sektor lain, dengan menggunakan konsep kesetaraan sama rata.

Sebagai contoh barangkali dapat dikutip keinginan dari UNDP (united Nations Develovment Program), kalau pendapatan seorang laki-laki setahun Rp. 10.000.000, maka wanita diharapkan akan mendapatkan hasil yang sama, atau yang disebut dengan konsep kesetaraan kwantitatif (50/50). Yang sudah berhasil menerapkan gender antara lain adalah negara Kuba, Cina, Zimbabwe dan beberapa Negara di Skandinavia.

 

Konsep tentang gender tersebut adalah seperti yang telah diwacanakan oleh UNDP sejak tahun 1990 sampai dengan sekarang ini dengan konsep gender 50/50. Hal itu dicanangkan dalam upaya menilai keberhasilan pembangunan bagi suatu Negara, termasuk di Indonesia. Bahkan setiap parpol yang mengikuti pemilu beberapa waktu yang lalu, harus menetapkan caleg (calon legislatif/anggota dewan) minimal 30% adalah wanita.

 

Kesetaraan gender 50/50 tersebut dalam arti tidak adanya keragaman atau perbedaan yang esensial antara pria dan wanita. Kalaupun ada perbedaan antara pria dan wanita hanyalah pada istilah yang disebut dengan faktor 3M, yaitu Menstruasi, Melahirkan dan Menyusui. Namun juga ada hal yang harus diperhatikan adalah apakah faktor 3M itu sebagai faktor kudrat/nature (alami) bagi seorang wanita, ataukah 3M itu sebagai sosialisasi atau konstruksi sosial yang disebut dengan nurture. Sebab, bagi mereka yang mendambakan kesetaraan gender 50/50 tidak mengakui bahwa 3M itu sebagai faktor alamiyah. Mereka menganggap bahwa faktor 3M itu sebagai konstruksi sosial/nurture, atau pandangan sosial masyarakat di lingkungan di mana wanita itu berada. Oleh karena itu, kondisi lingkungan sosial masyarakat itulah yang harus dirubah sebagai upaya keberhasilan kesetaraan gender.

 

D. Faktor Budaya dalam Pembentukan Konsep Gender (nurture)

 

Faktor budaya seperti wanita tinggal di rumah, memasak, merawat anak, mengatur rumah tangga dan lain-lain. Itu adalah tradisi, bukan kudrati. Kondisi seperti itu cocok pada masyarakat tradisional yang perkembangan teknologinya masih rendah, kalau tidak dikatakan terkebelakang.

 

Dengan temuan perkembangan teknologi modern seperti alat-alat kontrasepsi dan susu botol pengganti ASI, para wanita dapat mengatur jumlah anak yang diinginkan, atau sebaliknya tidak ingin punya anak, tidak menyusui, sehingga waktunya tidak perlu dihabiskan untuk banyak mengurusi/pengasuhan anak. Kendala biologis seperti tersebut dapat dihilangkan dengan rekayasa teknologi. Begitu juga budaya dan tradisi, dapat direkonstruksi.

 

E. Usaha-usaha untuk mewujudkan kesetaraan gender

 

Bagi kaum egalitis, mereka mempercayai bahwa dengan kekuatan budaya, dapat merubah bentuk sifat manusia.  Egalitarisme adalah doktren yang menyatakan bahwa manusia itu ditakdirkan sama derajat (dalam proporsi yang relatif sama). Kesetaraan gender 50/50 yang dipakai standar maskulin (materi, status dan power), hanya dapat dicapai dengan mengubah institusi budaya agar natur pada wanita dapat berubah. Selama sifat-sifat feminim tidak ada perubahan pada wanita, maka kesetaraan gender juga tidak akan tercapai. Jadi untuk tercapainya tujuan gender diperlukan usaha-usaha sebagai berikut:

a. Penghapusan natur feminim pada tingkat individu. Melalui konsep pendidikan yang diperlukan adalah androgini (andro=pria, gyne=perempuan), yaitu konsep pendidikan yang bebas gender kepada anak laki-laki dan perempuan. Berbeda halnya dengan pendidikan yang konvensional, yang berasumsi bahwa anak laki-laki dan perempuan adalah berbeda. Oleh karena itu, perlu perlakuan yang berbeda pula, seperti perbedaan dalam berpakaian, perbedaan jenis permainan dan perbedaan lainnya. Menurut kamu feminis, konsep pendidikan konvensional melanggengkan peran gender.

b. Penghapusan natur feminim melalui transformasi sosial

Androsentris, adalah sistem sosial yang didominasi kaum pria. Sistem androsentris tidak dapat menciptakan kesetaraan gender. Dalam institusi keluarga androsentris disebut sistem hierarkis patriarkat, yang menempatkan suami atau bapak sebagai kepala keluarga. Sedangkan isteri dan anak-anak berada di bawah perlindungan dan kekuasaan suami atau sebagaimana yang disebut dalam al-qur`an dengan firman Allah swt.: “arijalu qawwamuna alannisa” (الرجال قوّامون ىلى النساء ). Oleh kamu feminim egalis, sistem  hierarkis tersebut harus dirubah menjadi sistem horizontal egaliter, yakni mensejajarkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.

Pada Negara-negara sosialis/sosial demokrat tidak berlaku “arijalu qawwamuna alannisa” (الرجال قوّامون ىلى النساء ) karena:

- Suami tidak dibebani untuk memberikan nafkah kepada anak dan istri.

- Istri harus memberikan kontribusi untuk anggaran keuangan keluarga.

- Suami tidak dianggap sebagai kepala keluarga.

- Istri tidak bertanggung jawab atas pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga.

Oleh karena itu, berdasarkan pada pemahaman/pemikiran atau konsep dari kaum feminim tersebut muncullah kritikan terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dengan alasan bahwa undang-undang tersebut tidak sesuai dengan zaman modern, terlalu memberikan wewenang yang besar kepada suami dan membuat wanita dalam status yang rendah. Kritikan tersebut pernah mengemuka di negara ini beberapa waktu yang lalu dengan memunculkan ide untuk melakukan revisi terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.

c. Teologi feminis

Bersumber dari mazhab pembebasan (liberation theology) yang dikembangkan oleh James Cone akhir tahun 1960-an, yang diambil dari teori Markisme yang diterapkan pada perempuan yang dianggap kelas-kelas tertindas. Mereka membantah penafsiran dan fiqih yang dianggap merugikan wanita, baik bagi agama Islam maupun Kristen, Yahudi dan lain-lain. Di beberapa Negara telah bermunculan tokoh-tokoh teologi feminis, seperti Pakistan, Malaysia dan Indonesia. Di Indonesia sendiri pernah muncul ke permukaan paham yang menyangkut fiqhul mar`ah (fiqih yang berhubungan dengan wanita), tentang kebolehan wanita menjadi imam, wanita boleh menjadi khatib, wanita boleh jadi muazzin dan wanita boleh menikah tanpa wali. Bahkan mereka menolak penafsiran ayat Al-Qur`an dan al-Hadits yang secara explisit mengatakan bahwa istri atau wanita itu diciptakan dari diri suami atau sebagaimana dimaksud ayat 1 surat An-Nisa yang terjemahannya sebagai berikut:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.

 

Bahkan tidak hanya itu, paham teologi feminis juga menolak antara lain tentang penciptaan wanita dari tulang rusuk Nabi Adam as, dan menolak ayat tentang waris yang menyatakan bahwa bagian seorang anak laki-laki mendapatkan bagian dua kali dari anak perempuan.

 

D. Sejarah Wanita sebelum dan sesudah datangnya Agama Islam

 

Kalau kita melihat sekilas keberadaan wanita adalah memang diperlukan untuk meramaikan dunia ini. Dunia ini akan terasa sepi tanpa wanita. Dan apalah artinya dunia ini tanpa wanita. Namun di pihak lain, sebelum datangnya agama Islam keberadaan wanita itu dipandang kurang menguntungkan, seperti yang pernah terjadi dan diceritakan dalam sejarah.

 

1. Sebelum datangnya agama Islam 

Kondisi atau kenyataan hidup yang dialami oleh kaum wanita sebelum datangnya agama Islam, antara lain:

a. Setiap anak perempuan/wanita yang lahir ke dunia ini dikubur hidup-hidup alias dibunuh.

b. Wanita dijadikan sebagai pemuas nafsu angkara murka oleh kaum (laki-laki) jahiliah.

c. Tindak kekerasan selalu terjadi dan dialamatkan kepada wanita.

d. Wanita dijadikan sebagai budak, dan lain-lain yang merendahkan derajat kaum wanita.

 

2. Sesudah datangnya agama Islam

Datangnya agama Islam yang ditandai dengan lahirnya Rasulullah, Muhammad saw merupakan angin sorga bagi kaum wanita, hal itu terjadi karena: 

a. Islam mengangkat derajat kaum wanita, mereka berhak mendapatkan kehidupan yang layak sebagaimana yang dialami oleh kaum laki-laki.

b. Islam menempatkan wanita sebagai makhluk Allah sebagaimana juga laki-laki (serupa tapi tidak sama).

c. Bahkan pada hal-hal tertentu wanita diberikan keistimewaan seperti yang disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah saw yang antara lain artinya, “wanita itu tiangnya negara, apabila wanitanya baik maka akan baik pulalah negara itu. Sebaliknya apabila kaum wanitanya rusak, maka akan rusak pulalah negara itu”. “Sorga di bawah telapak kaki Ibu”. Dalam sebuah dialog atas pertanyaan sahabat tentang siapa yang terlebih dahulu dihormati di antara kedua orang tuanya, Rasulullah saw menjawab, “ibumu, ibumu, ibumu, baru bapak/ayahmu”.

d. Al-qur`an menempatkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan/wanita dalam hal apabila sama-sama melakukan amal shaleh, seperti yang disebutkan dalam al-Qur`an dalam surah an-Nahl ayat 97, yang terjemahannya sebagai berikut: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

 

Demikian topik “WANITA DAN GENDER, SUATU KEMITRAAN ?” yang penulis dapat persembahkan  buat pembaca yang budiman dalam rangka menyongsong tibanya peringatan Hari Kartini Tahun 2016 ini, dengan harapan agar dapat dijadikan bahan renungan: mau di kemanakan kaum wanita ? Bagaimana kondisi atau sejauhmana perhatian umat manusia terhadap wanita sebelum datangnya agama Islam. Islam datang menghormati, memuliakan dan mengangkat derajat kaum wanita. Kemudian setelah dihormati, dimuliakan dan derajatnya diangkat sedemikian rupa oleh agama Islam, untuk ke depan apakah dengan alasan emansipasi, dengan alasan gender atau dengan  alasan apapun, mau di kemanakan lagi itu kaum wanita? Wanita akan menjadi terhormat, wanita akan menjadi mulia dan derajat wanita akan meningkat sangat tergantung pada bagaimana sikap kita memperlakukannya? Sayangilah wanita …………….!!!, karena ibuku adalah wanita, aku juga punya saudara, anak dan cucu wanita.

 

 

*Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi Agama Samarinda.