Selamat datang di website resmi Pengadilan Tinggi Agama Samarinda

features Beranda

 
Print
PELAKSANAAN MEDIASI DENGAN PENDEKATAN NILAI-NILAI ISLAM
DALAM PERKARA PERCERAIAN, HARTA GONO GINI  
DAN GUGATAN HARTA WARIS
 
Oleh : Sutejo
(Hakim PA Balikpapan) 
 

          Setiap orang yang berperkara di Pengadilan Agama, terutama masalah perceraian, gugatan harta bersama maupun gugatan harta waris, maka jika kedua belah pihak hadir di persidangan, para pihak wajib menempuh proses mediasi dengan i’tikad baik sebagaimana maksud pasal 7 ayat (1) Perma No. 1 tahun 2016. Dan jika pihak Penggugat untuk gugatan harta waris/gugatan harta bersama atau gugatan cerai dan atau Pemohon untuk permohonan cerai talak tidak mau beri’tikad baik untuk menempuh proses mediasi, maka gugatan atau permohonannya akan diputus dengan tidak dapat diterima atau di NO (Niet-Onvanklijk), karena mediasi  merupakan syarat mutlak atau sebuah keharusan bagi para pihak yang hadir kedua-duanya.

          Dan seorang mediator di dalam menjalankan tugas mediasinya boleh memberikan nasehat yang panjang lebar, tidak terbatas pada posita maupun petitum gugatan sesuai dengan kehendak Perma No. 1 tahun 2016 pasal 25 ayat (1). Ketidak terbatasan di sini dengan tujuan agar para pihak (gugatan perceraian) dapat mencabut perkaranya dan kembali rukun sebagai suami isteri, sedang dalam perkara (harta bersama maupun gugatan harta waris) agar dapat diselesaikan dengan cara damai secara kekeluargaan. 

Read more: Pelaksanaan Mediasi.... >>
Print

  ”BAHWA KEMERDEKAAN IALAH HAK SEGALA BANGSA, OLEH SEBAB ITU MAKA PENJAJAHAN DI ATAS DUNIA HARUS DIHAPUSKAN KARENA TIDAK SESUAI DENGAN PRI KEMANUSIAAN DAN PRI KEADILAN “

  Oleh  Sutejo*

   Menghapuskan penjajahan di muka bumi adalah sebuah tugas mulia, karena berarti telah menyelamatkan manuasia dari kebinasaan baik di dunia maupun di akhirat kelak.  Pernyataan ini, perlu didukung dengan sebuah hadits Rasulullah di bawah ini, yang artinya :   

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya sebagai berikut :

Amr an-Naqid menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Hammad bin Salamah memberitakan kepada kami dari Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan didatangkan penduduk neraka yang ketika di dunia adalah orang yang paling merasakan kesenangan di sana. Kemudian dia dicelupkan di dalam neraka sekali celupan, lantas ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan sebelum ini? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan sebelum ini?’. Maka dia menjawab, ‘Demi Allah, belum pernah wahai Rabbku!’. Dan didatangkan pula seorang penduduk surga yang ketika di dunia merupakan orang yang paling merasakan kesusahan di sana kemudian dia dicelupkan ke dalam surga satu kali celupan. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kesusahan sebelum ini? Apakah kamu pernah merasakan kesusahan sebelum ini?’. Maka dia menjawab, ‘Demi Allah, belum pernah wahai Rabbku, aku belum pernah merasakan kesusahan barang sedikit pun. Dan aku juga tidak pernah melihat kesulitan sama sekali.’.” (HR. Muslim dalam Kitab Shifat al-Qiyamah wa al-Jannah wa an-Naar) 


Read more: HUT RI ke-71 >>
Print

WANITA DAN GENDER, SUATU KEMITRAAN ?

Oleh: H. Abdullah Berahim*

 

A. Pendahuluan

Alhamdulillah dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, yang telah menciptakan makhluk-Nya yang bernama manusia ini yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Karena atas curahan rahmat, karunia dan hidayah-Nya jualah tulisan ini dapat disajikan ke hadapan pembaca yang budiman. Shalawat dan salam tidak lupa penulis persembahkan kepangkuan Rasulullah saw yang seharusnya menjadi panutan dan idola kita bersama, mudah-mudahan kita diakui sebagai umatnya yang bakal mendapatkan syafaat Beliau di akhirat kelak. Amin.

Berbicara tentang keberadaan kaum wanita saat ini, di era reformasi, era globalisasi, di era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini membuat seolah antara wanita dengan laki-laki sudah tidak ada perbedaan prinsip lagi dalam percaturan berbagai bidang kehidupan modern. Sehingga akhir-akhir ini, sebagaimana kita maklumi bersama bahwa menjelang tahun 2014, kita akan kembali mengadakan pesta demokrasi, pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Jauh-jauh hari sebelumnya partai-partai politik peserta pemilu telah sibuk mempersiap calon legislatifnya. Beberapa parpol bahkan mencari figur yang berasal dari kaum wanita atau perempuan sebagai kiat untuk mendongkrak popularitas partai. Untuk itu dicari wanita atau perempuan ternama untuk dapat dijadikan calon legislatifnya. Wanita yang tadinya sebagian adem ayem tinggal di rumah, atau yang sedang menggeluti professi lain, seperti para artis dan/atau pengusaha mencoba alih profesi menggeluti dunia politik mendaftar atau didaftarkan sebagai calon anggota legislatif, baik untuk caleg DPR, DPD, DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota.

Tidak terkecuali pada lembaga legislatif, banyak dari kalangan birokrat juga saat ini dicari wanita-wanita berprestasi untuk menduduki jabatan atau posisi tertentu dengan alasan gender. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila kita berkunjung ke suatu daerah tertentu menemukan ada beberapa kepala dinas atau pimpinan SKPD yang dengan sengaja lebih memilih wanita dari pada laki-laki, sekali lagi dengan alasan gender.

Bertolak dari situasi dan kondisi yang berkembang di sekitar kita saat ini, penulis mencoba mengajak para pembaca untuk melirik keberadaan wanita dan konteknya dengan gender, karenanya tulisan ini diberi judul “wanita dan gender,  suatu kemitraan?” 


Read more: Wanita dan Gender Suatu Kemitraan >>
Print
TAQWA SEBAGAI BEKAL UNTUK SUKSESNYA KEHIDUPAN
DI DUNIA DAN AKHIRAT
 
Ditulis oleh Drs. Sutejo, S.H., M.H.*
 

Alhamdulillah kita baru saja selesai menjalankan ibadah Shiyamu Ramadhan, semoga kita menjadi orang yang bertaqwa. Sebab tujuan Allah mewajibkan kita (orang yang beriman) untuk berpuasa adalah agar menjadi orang yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 183.

Kenapa hanya taqwa yang ditekankan oleh Allah Swt. kepada kita, hingga disetiap khutbah Jum’at pun diwajibkan untuk berwasiat taqwa sebagai salah satu rukun dalam khutbah jum’at. 

Selain itu, apabila pada momen ramadhan sebagai bulan pembinaan yang telah berlalu ini, ternyata  kita belum bisa merubah diri kita menjadi orang yang bertaqwa, maka Allah dengan penuh kasih sayang masih memberikan kesempatan selama kita masih hidup di dunia, yaitu dengan memberikan sarana berupa ibadah secara umum agar kita tetap berusaha untuk menjadi orang yang bertaqwa, sebagaimana difirmankan Allah dalam Qs. Al-Baqarah ayat 21, yang artinya “ Wahai manusia sembahlah Tuhan mu, Tuhan yang telah menciptakan kalian semua dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa”. 


Read more: Taqwa sebagai Bekal..... >>